
Silahkan Anda dengarkan deru mesin Formula 1 yg demikian http://www.slotsbig777.com keras tapi dengan ringannya sanggup mendapatkan putaran tinggi. Deskripsi mesin yg lincah keluar melalui raungannya yg buat beberapa orang dirasa seperti alunan musik dari satu kelompok orkestra yg personelnya merupakan elemen mesin.
Masalah ini tak terputus dari ciri-ciri mesin tersebut yg tetap bermain pada putaran supercepat. Dengan batas puncaknya yg mampu mendapatkan 20.000 rpm, dapat diambil kesimpulan jika mesin jet darat ini miliki langkah (stroke) yg benar-benar pendek (over square).
Demikian pendeknya sampai langkah piston lebih pendek ketimbang diameter pistonnya dengan perbandingan sampai 1 : 2. Dalam kata berbeda panjang langkah piston separo diameternya. Konsekuensinya putaran mesin berubah menjadi condong tambah tinggi dibandingkan mesin konvensional.
Masalah ini dapat Anda memperlihatkan di monitor tv waktu rider F1 kerjakan pit stop untuk ganti ban atau isi bahan bakar (refuelling). Mesinnya terdengar tetap ada pada rpm tinggi walaupun mesin dalam situasi langsam.
Proses Kinerja Mesin F1
Mesin dengan langkah pendek miliki kekurangan dalam membuahkan torsi, untuk menutupi kekurangan itu, banyaknya silinder dibikin tambah banyak pada 6, 8, 10, bahkan juga 12 silinder. Namun, dengan fakta keselamatan jiwa rider, FIA menggelindingkan aturan yg batasi banyaknya tak melewati 8 silinder serta kemampuan mesin lantas dibatasi cuma 2.400cc.
Feature turbo ikut diharamkan, dalam kata berbeda ‘napas’ mesin cuma memercayakan kevakuman yg dibuat oleh langkah isap piston alias normally aspirated. Tapi banyak perancang mesin bersinergi dengan desainer mobil F1 menyiasatinya dengan membuat ‘corong’ pada bagian atas kepala rider untuk ‘menangkap’ serta ‘memaksa’ hawa menghimpit aliran intake yg dampaknya menyerupai resiko turbocharger.
Mesin F1 team Ferrari

Biar mesin gampang mendapatkan putaran tinggi dengan spontan, elemen dibikin semudah mungkin, serta kemampuan elemen adalah satu diantaranya kunci kemenangan biar mesin sanggup di-geber saat persaingan. Oleh lantaran itu, ‘jeroan’ mesin yg bekerja terbuat bermaterial yg mudah tapi kuat.
Bahan baku memiliki bau futuristik seperti titanium, berilium, aluminium hingga magnesium sangat terpaksa diadopsi walaupun membuatnya memerlukan investasi yg banyak. Akhirnya, berat keseluruhan mesin cuma ada pada rata-rata 100 kg saja. Terlebih dengan pengurangan banyaknya silinder mungkin sangat berat mesin F1 dapat dibawah 90kg.
Biar berputar-putar tiada getaran seluruhnya piston serta setangnya alami penyeragaman pada beratnya dengan tingkat toleransi sampai hitungan miligram, hingga pada piston satu serta yang lain hampir tak miliki ketaksamaan berat. Tidak bingung bila mesin itu miliki tanggapan tinggi pada pijakan pedal gas.
Putaran mesin sampai 20.000 rpm membuat perancang mesin F1 mesti melupakan perangkat pembalik katup konvensional yg terbuat dari pegas baja. Karena bahan itu tak kan mampu mengatasi pergerakan sedahsyat itu. Bila toh dipaksakan, maka bisa berlangsung resiko floating pada katup. Jadi substitusinya, dimanfaatkan metode pneumatic melalui perlindungan dorongan hawa yg diakui lebih sanggup menggerakan katup secepat kilat.
Jadi langkah penyempurnaan, katup dibikin berbahan kuat serta mudah untuk mendukung proses buka-tutup bisa berjalan tambahan cepat. Bahkan juga kombinasi titanium serta magnesium yg dulunya dirasa mutahir, saat ini dirasa primitif.
Jadi alternatifnya, digunakanlah bahan keramik lantaran sudah bisa di buktikan lebih tahan pada panas sampai beberapa ribu derajat dengan berat yg tidak kalah mudah. Dengan begitu banyak insinyur dapat lebih lega meningkatkan daya mesin sampai meraih batas cakrawala kapabilitas optimalnya.
Sejarah Mesin F1
Lima puluh tahun yang lalu, mesin dengan prestasi 100bhp/liter masihlah dalam impian serta impian. Atas peningkatan technologi, mesin 2,4 liter V8 saat ini mampu meraih 800bhp/liter. Mesin ini mampu mengkonsumsi 650 liter hawa per detiknya dengan mengonsumsi bahan bakar yg memakan pada 60 sampai 75 liter untuk jarak 100km.
Untuk menandingi kapabilitas mesin semacam itu, pasokan bahan bakar serta waktu pengapian ditata oleh computer mesin yg disukai banyak orang dimaksud ECU (Electronic Control Unit). Pada dasarnya, perangkat ini punya prinsip yg sama seperti perangkat computer kendaraan jalan raya, yg memilah merupakan software-nya.
ECU yg dimanfaatkan pada kendaraan biasanya, diprogram cuma mengatasi satu pemetaan. Pekerjaan pentingnya cuma untuk membaca serta mengatasi keperluan mesin keseluruhannya, tidak perduli berapakah lantas banyaknya silindernya. Walau sebenarnya, bila dirinci dengan cara saksama, keperluan serta situasi tiap-tiap silinder belumlah semestinya sama.
ECU yg dipunyai mesin Formula 1 dengan banyaknya silinder 8 buah, tiap-tiap silindernya memperoleh satu jatah pemetaan yg mengontrol keperluan banyaknya bahan bakar serta waktu pengapian dengan cara pribadi.
Waktu mesin Formula 1 kerja pada putaran yg stabil, semasing silinder belumlah semestinya mendapatkan banyaknya bahan bakar serta waktu pengapian yg sama. Dalam kata berbeda, skema elektronik ini akan mengontrol dengan pas banyaknya bahan bakar yang perlu dikasihkan serta kapan waktu pengapian yg serasi pada semasing silindernya.
Terkecuali itu, pada hardware serta software sudah didesain demikian rupa agar bisa diprogram lagi agar bisa diseting dengan situasi cuaca, situasi lintasan, ciri-ciri circuit, hingga ke ciri-ciri rider.
Bila dilucuti serta di jabarkan, mesin balap ini terdiri dalam kira-kira 5.000 elemen mesin yg masuk dalam definisi mesin termahal pada dunia. Semuanya diinvestasikan biar mesin dapat berputar-putar aman pada 20.000 rpm. Lantaran elemen itu merupakan kunci untuk meningkatkan tenaga serta kecepatan satu mobil Formula 1.